Selasa, 31 Agustus 2010

Kau ini Bagaimana, Puisi kesengsaraan rakyat




Puisi merupakan representasi atas jiwa, yang diungkapkan dalam pemililhan kata yang indah, menimbulkan irama yang indah dan bahkan juga rima. Bahasa sastra tentunya sangat berbeda dengan bahasa sehari-hari, karena itulah, pengklasifikasian bahasa dibedakan menjadi bahasa sastra dan bahasa sehari-hari atau daily language.

Bahasa sastra (terutama dalam puisi) seringkali menimbulkan multi-interpretasi atau penafsiran non-tunggal. Selain itu, sastra membebaskan tekanan emosi dari pencipta dan penikmat karya sasra, yang menurut Aristoteles diistilahkan dengan Katarsis (chatarsis). dengan pembebasan tekanan emosi tersebut kemudian menempatkan sasrta dalam posisi yang sangat urgen dalam kebudayaan. Bahkan sejak dulu telah terbentuk sebuah perspeksi universal bahwa orang yang dekat dengan sastra lebih utuh nilai kemanusiaan dan kehidupannya.


Karena pembebasan tekanan emosi itu pula, sastra bersifat kreatif dan imajinatif, di mana dengan kedua hal tersebut sastra mengungkap apa yang tidak terungkap. Selain berbicara seputar imajinasi dan daya kreasi, banyak pencipta karya sastra menjadikan sastra sebagai kendaraan yang sangat pas untuk mengkritisi segala hal yang ada dalam kehidupan, seperti isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat atau biasa disebut dengan kritik sosial.


Salah satu puisi yang menurut saya tepat untuk menjadi bahan referensi puisi kritik sosial adalah salah satu puisi karya Mustofa Bisri, atau lebih dikenal dengan Gus Mus, tokoh relijius sekaligus seniman dan sastrawan, ketiga profesi yang beliau lakoni dengan sangat baik, ketiga bidang itu (agama, sastra, dan seni) seringkali beliau relevensikan dalam setiap karyanya, seperti puisi relijius, dan lukisan kaligrafi. Selain itu, beliau juga senang menciptakan puisi kritik sosial, salah satunya yang berjudul Kau Ini Bagaimana.




Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir




aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai




kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aq plin plan




aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku




kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya




aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain




kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai




aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya




kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah




aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a'lam bissawab




kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku




aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu




kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis




aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja




kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku




kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?




1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)








Dalam analisis saya yang sederhana, Gus Mus mencoba menganalogikan keadaan masyarakat Indonesia dalam puisinya tersebut.

Masyarakat Indonesia yang termaktub merupakan rakyat kalangan bawah di mana si pencipta memakai kata ganti "aku" untuk merepresentasikan kehadiran rakyat bawah dalam puisi terebut. Dalam dua baris bait pertama dituliskan "Kau ini bagaimana? kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya", merupakan kritik demokrasi yang ditulis dengan sederhana, yakni menunjukkan bahwa pemerintah –dengan kata ganti "kau"- berbuat sesuka mereka tanpa persetujuan rakyat, "kau memilihkan untukku segalanya", rakyat tidak diberi kebebasan untuk memilih apapun, rakyat hanya disodorkan berbagai macam kebijakan tanpa pilihan, jika toh ada pilihan, maka pilihannya hanya satu, artinya sama saja tak ada pilihan, padahal negara ini –dikatakan- adalah negara demokrasi, di mana rakyat merdeka/bebas untuk memilih kebijakan, dilukiskan dalam kata "kau bilang aku merdeka".
Dalam bait yang lain juga menggambarkan bagaimana si "kau" menginginkan A, ketika "aku" sudah menjalankan A justru disalah-salahkan. Seperti dalam kalimat "kau bilang kritilah, aku kritik kau marah" yang menunjukkan bagaimana pemerintah meminta rakyat untuk menjadi cerdas, menjadi pintar dengan kritikan untuk segala kebijakan pemerintah ataupun kepemerintahan itu sendiri, tetapi ketika rakyat berbicara kritis, pemerintah justru tidak mau disalahkan.

Untuk bait lainnya dalam puisi tersebut,tentu Anda lebih mengerti makna yang tersirat di dalamnya, --karena saya sendiri juga masih harus belajar banyak, dan tidak mungkin saya analisis per satu kalimat dalam puisi itu, karena saya bukan sedang membuat skripsi ^_^--
Untuk analisis terakhir, puisi tersebut juga menggambarkan bagaimana rakyat menjadi orang paling bingung dan paling bimbang di dunia ^_^, karena setiap apa yang dilakukan sepertinya selalu tidak benar, padahal sebenarnya posisi rakyat adalah posisi yang semestinya diayomi, demerdekakan, diperjuagkan dan didengar aspirasinya. Kebingungan itu sangat jelas terlihat dalam kalimat "kau ini bagaimana?" dan "aku harus bagaimana" yang selalu menjadi pembuka di setiap bait, dan terdapat juga dalam bait penutup "kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana".

Dengan puisi tersebut, kita akan semakin mendapat gambaran tentang tekanan-tekanan emosi dan psikologi yang dijejalkan ke dalam batiniah juga lahiriah rakyat, tentu dengan tanpa bermaksud membuang rasa hormat terhadap pemerintah, karena ini hanyalah kritik dengan maksud agar terjadi satu perubahan dalam gejala sosial yang demikian buruk yang sedang terjadi di masyarakat, setidaknya perubahan itu membawa kebaikan di semua pihak.
Wallahua'lam.

Share It